Jumat, 18 Februari 2011


Maulid Nabi Besar Muhammad SAW : Cinta dan Kasih Sayang Sepanjang Masa

 Tanggal 14 Februari, tepatnya hari Minggu Valentine’s day yang jelas-jelas bukan budaya bangsa Indonesia.
Cinta yang digembar-gemborkan oleh banyak orang juga sudah mulai memudar seiring dengan pudarnya gemerlap pink di banyak sudut plaza dan mall.
Itulah memang gambaran dari cinta ala kapitalis, semua harus bisa dinilai dengan materi dan uang. Termasuk cinta pun bukan hal tabu untuk diperdagangkan dan dieskploitasi sedemikian rupa.
Beruntunglah bagi bangsa Indonesia khususnya umat Islam tak perlu ada perayaan khusus tentang cinta karena semua hari adalah penuh cinta. Betapa Rasul Muhammad SAW memberikan tauladan pada manusia untuk mencintai sesama. Sampai-sampai banyak bertaburan hadits tentang bagaimana adab dengan tetangga, teman, orang tua, adik, kakak bahkan sesama muslim seluruh dunia.
Cinta ini nyata, bukan hanya bualan semata. Ketika seseorang memasak makanan dan baunya tercium oleh tetangganya, Rasulullah menyarankan untuk berbagi makanan tersebut dengan tetangga itu. Tak ada celah untuk bersikap individualis dan acuh terhadap sesama. Begitu juga dengan anjuran untuk berkata yang baik atau diam.
“Demi Allah tidak beriman, Demi Allah tidak beriman, Demi Allah tidak beriman. Para sahabat bertanya: “Siapa wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Seorang yang tetangganya tidak aman dari kejahilannya (gangguannya)” (HR. Bukhari).
Lalu hadits tentang bagaimana seharusnya seorang muslim harus mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Bahkan dikatakan bahwa belum beriman seseorang yang belum mampu bersikap mecintai saudaranya sesama muslim dengan baik. Anjuran untuk bertukar hadiah agar terpupuk rasa kasih sayang satu sama lain. Bahkan salah satu kunci surga adalah berhubungan erat dengan hal mencintai ini:
“Siapa saja yang suka diselamatkan dari api neraka dan masuk ke dalam surga. Meninggalnya dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir dan memperlakukan manusia sebagaimana ia ingin diperlakukan oleh mereka” (HR. Muslim).
Antara Ritual dan Keteladanan 
Tidak berlebihan barangkali ketika Michael H. Hart (1978) menempatkan sosok Muhammad saw pada urutan pertama dalam bukunya Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah.
Perjalanan sejarah manusia mengajarkan betapa banyak tokoh hebat yang kelahirannya mampu menjadi titik balik satu perubahan peradaban dalam tatanan masyarakat tertentu. Tokoh itu lalu diidolakan, karena dalam ranah sosiologis, kehadiran sosok idola akan menjadi élan vital dari identitas paling sejati seseorang.
Dalam konteks demikian, Rasulullah telah mampu menjadi Super Idol yang menjadi figur dan miniatur dari idealisme serta pengentalan jalan hidup yang dihayati. Bagaimanapun, tanpa upaya pengidolaan, sistem keyakinan akan kehilangan kiblatnya yang monumental.
Dalam diskursus antropologi, manusia sering disebut sebagai homo festivus (Komaruddin Hidayat: 2003), yaitu makhluk yang senang mengadakan festival. Sejak zaman purba sampai modern agenda untuk mengadakan festival tidak pernah pudar.
Sebuah pesta budaya yang bersifat publik, yang bahkan sering dikaitkan dengan ritus-ritus keagamaan. Lebih jauh lagi, acara ini biasanya dikaitkan dengan misi keagamaan, yaitu mengenang dan memelihara traditional wisdom, lalu diperkaya dengan elemen-elemen mutakhir. Festival semakin gegap gempita ketika dilakukan secara massif dan menjadi simbol harga diri sebuah bangsa dan agama.
Sejalan dengan hal itu, dalam tradisi Islam, ada budaya perayaan maulid Nabi; sebuah event yang dimanfaatkan untuk “menghidupkan” idola lewat pembacaan kembali lembaran-lembaran sejarah Nabi Muhammad. Dalam dunia Islam, Nabi Muhammad sejatinya adalah super idol bagi setiap generasi Islam sepanjang zaman. Sayangnya, dalam proses gesekan budaya dan rentang waktu yang panjang, keidolaan Nabi terkadang tereduksi menjadi tokoh non empirik.
Esensi yang ada dalam perayaan maulid nabi Muhammad S.A.W  merupakan kegiatan rutin umat muslim selama ini dilaksanakan, diharapkan bisa menjadi referensi dan semangat yang tertanam dalam kehidupan sikap selaku makhluk sehari hari.
Kalaulah selama ini banyak orang hanya melihat moment maulid nabi sebagai sejarah saja khususnya pada bulan maulid/Rabiul awwal ini, mungkin ada baiknya jika keteladanan dan perilakunya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Baik tingkah laku, pola hidup, kehidupan social dan lainya . Pasti hal ini menjadi penting agar peringatan yang sangat bersejarah ini tidak menjadi ritual tahunan semata yang cukup menghabiskan energi umat islam.
Tetapi setidaknya dapat diaktualisasikan bahwa maulid nabi dalam kehidupan sehari-hari dapat dipakai sebagai cerminan pribadi muslim yang harus dituangkan dalam diri setiap individu. memang tak mudah, oleh karena itu berarti meneladani perilaku nabi dalam kehidupan sehari-hari terlebih di tengah dahsyatnya arus globalisasi dan modernisme yang semakin menggerus akidah umat muslim yang salah satunya ditandai dengan pesatnya teknologi, cepatnya arus informasi dan komunikasi saat ini, setidaknya dengan adanya pondasi keimanan yang tertanam kuat dan menjadi symbol (icon)  dalam hidup di tengah-tengah arus modernism tersebut.
Apalagi kini orang begitu memuja artis, group band, bintang sepak bola dan Laptop terbaru berikut internetnya, maka sudah saatnya dalam peringatan Maulid Nabi S.A.W sebagai idola hidup yang menjadi landasan, pedoman kitasehingga mindset dalam menghadapi kondisi dunia saat ini adalah dengan melihat nabi Muhammad S.A.W sebagai manusia biasa yang dapat menyesuaikan dengan keadaan berlaku tanpa meninggalakan ajaran yang dibawanya.

1 komentar:

  1. Kok hampir sama sih vit temanya, gua kn juga ngebagas tentang Nabi Muhammad ..

    BalasHapus