Orang
bilang tidak ada yang salah dengan apa yang telah kita lalui, begitupula dengan
ajaran semua agama. Aku memilih hal di masa lalu untuk masa depan yang aku
pikir itu baik, tetapi Tuhan berpikir sebaliknya. Oke, aku rasa menjalaninya
dengan semangat saja sudah cukup baik, di mata Tuhan.
Mencoba
dan menyimpulkan dari apa yang telah aku coba serta setelahnya berpikiran yang
aneh-aneh adalah salah satu hal yang mungkin membuat segelintir orang,
membuang-buang waktu. Tapi bagiku, itu hal mengasyikan. Kau akan bisa menangkap
hal baik apa saja yang belum kau ketahui, dari melakukan itu. Jadi, pagi itu
menjadi hari dimana aku akan merasa
senang, bosan, panik. Belum, aku belum merasakannya, tapi sudah terbayang
olehku. Hari pertama kerja, maksudku... sekedar magang. Ada beberapa hal di
benakku sebelum aku memulai hari itu, (1) Berapa orang yang akan bisa dekat
dengan ku karena aku, (2) sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, (3) aku
merasa berdosa karena aku bekerja tidak sesuai dengan jurusanku. Pukul 8 semua
karyawannya mulai bekerja
Menjadi
orang yang tepat waktu, memang jadi bahan pertimbangan lagi setelahnya. Aku
berangkat pukul 7, yang jarak antara rumahku dengan kantor dapat ditempuh
sekiranya 20 menit. 40 km/jam untuk sesekali mendahului sebuah mobil. Aku tidak
ingin datang terlalu cepat dan terlambat. Mengisi bahan bakar dan membeli lauk
untuk makan siang, menjadi dua hal yang membuatku aman untuk tidak datang
terlalu cepat. Aku harap ibu penjual makan melayani dengan lambat. Aku harap
antrian panjang di tempat pengisian bahan bakar. Tapi berharap dua hal tersebut
kayaknya kurang pas dengan arah ke kantor yang jarang dilewati pengendara
sepeda motor dan mobil, tidak ada antrian di tempat pengisian bahan bakar.
Begitu pula dengan ibu penjual makan, berharap ia lambat malah terasa ia
melayaninya dengan menekan tombol NOS
di setiap gerakannya.
Setengah
perjalanan, pukul 07.10. Saat semua orang di pagi hari berharap jalanan tidak
macet, aku berharap sebaliknya. Ternyata harapan semua oranglah yang menang.
3/4 perjalanan, pukul 07.15. Aku kebelet pipis. Mungkin itu sugesti otak ku
saja untuk menggantikan hal menyebalkan dari harapan yang tidak kunjung
terkabul, pagi itu, yang sebenarnya aku sama sekali tidak pernah minum banyak
di pagi hari.
Cari
kantornya. Menanyakan pada beberapa orang di pinggir jalan, aku harap mereka
tidak sepenuhnya mengerti, agar aku dapat menanyakan lebih banyak orang di sekeliling,
agar aku dapat sampai tepat waktu. Terbesit di otakku untuk menanyakan dimana
posisi kantor itu berada, dengan kalimat yang berbelit-belit, tapi kayaknya itu
malah ngebuat aku terlihat bodoh. Atau aku tanyakan ke beberapa orang di jalan
dengan pertanyaan sama. Iseng. Hanya iseng, dan aku tidak ingin sampai kantor
secepat mungkin. 07.30 aku melihat kantornya. Begitu sepi dan berdebu, karena
memang dekat sekali dengan jalan raya. Aku sugestikan otakku untuk ingin sekali
aku pipis. Pengisian bahan bakar. Aku cari pengisian bahan bakar untuk
menggunakan toilet disana. Belum sampai pengisian bahan bakar, aku memikirkan
hal apalagi agar aku tidak sampai kantor secepat mungkin. 07.40, lebih cepat
dari yang ku kira. Oke, tak apalah, apa salahnya datang lebih awal. 07.45 aku
sampai kantor tersebut. Sepi, hanya ada office boy yang sedang membersihkan
beberapa meja kantor.
“Hari
ini saya magang” kataku
“Silahkan
duduk disini. Semua karyawan tidak akan datang sebelum pukul 8 tepat” jawabnya
Ya.
Memang seharusnya. Dan tidak seharusnya aku datang terlalu pagi. Mungkin
besok-besok aku harus mendatangi semua pengisian bahan bakar untuk sekedar
pipis. Tepat pukul 8, kepala perusahaan datang. Dengan memakai kemeja setengah
formal dan tidak berdasi, ia mempersilakan aku untuk masuk ruangannya.
Rungannya sekitar 5 x 5 meter dan ber-AC. Cukup untuk kami berbicara dengan
nyaman. Tiga buah kursi, satu kursi yang didudukinya, satu tempat dimana aku
akan duduk, dan satu lagi mungkin biasanya ada dua karyawan yang menghampirinya
untuk berdiskusi dengannya, dan itu dua orang.
“Kemari.
Saya jelaskan detail soal pekerjaan kamu disini” katanya
“Jadi
kamu akan membuat beberapa artikel perhari untuk diposting di website kami.
Kamu akan mereview......” entah berapa kalimat yang keluar dari mulutnya, dan
yang hanya kutangkap ‘membuat artikel dan mereview...’
Aku
memperhatikan gerak-gerik ia berbicara, mungkin ia berharap aku mengerti dan
akan memenuhi keinginannya dengan sempurna. Tab browser yang kulihat di
notebooknya adalah beberapa website dengan tagline bermacam-macam. Ban, bunga,
berlian, dan kebaya. Aku tidak bisa menebak berapa puluh juta omset yang ia
dapat perbulan. Atau mungkin ratusan juta.
“Kaget?”
“Apa,
Pak?” aku lebih kanget dia berkata ‘kaget?’
“Iya.
Ini semua bisnis saya” katanya. Mungkin milyaran, pikirku
“Ini
A, B, itu yang disana si C” ia memperkenalkan aku ke beberapa karyawan yang
akan kerja di sekelilingku atau lebih tepatnya se-ruangan denganku. Sudah dua
hari sampai sekarang aku bekerja, masih belum mengingat betul nama mereka
satu-persatu.
“Oke.
Kamu disini ya”.
Aku menaruh barang-barangku di meja yang ia tunjukan untuk aku
bekerja. Sunyi. A, B, dan C hanya terdengar suara ketikan mereka dan sesekali
bunyi ‘klik’ pada mouse mereka. Sebenarnya ini suasana yang aku sukai. Tenang,
tidak ada kegaduhan, dan aku dapat mengunggah imajinasiku ke dalam kalimat yang
akan aku susun sekitar beberapa menit kedepan. “Oke” kataku dalam hati sebagai
kata untuk memulai pekerjaanku. Aku berharap ada yang bertanya kepadaku,
mengenai apapun, siapapun si A B atau C, dan aku sudah mempersiapkan jawabannya
“Tinggal
dimana?”
“Dari
universitas mana?”
“Bagian
apa?”
3
pertanyaan yang ternyata tidak kudengar dari siapapun. Rasanya ingin aku
menyapa si A yang duduk tepat di sebrangku. Tapi aku bodoh sekali dalam hal
berbasa-basi. Aku urungkan basa-basi tersebut.
Aku
cari beberapa sumber mengenai tema yang ku ulas. Rasanya beda. Aku terbiasa
menulis kalimat dan kata-kata untuk sebuah buku, novel. Kali ini aku menulis
artikel yang mengharuskan artikel tersebut dibaca dan diminati banyak orang.
Mau tidak mau, aku harus lebih persuasif dalam mengelola kalimat untuk artikel
tersebut. Aneh rasanya. Tapi ini seperti sebuah hukum pekerjaan. Jika kamu
seorang koki, seharusnya tidak hanya kue yang bisa kamu buat. Menyebalkan
memang membiarkan satu bidang pekerjaan mempunyai cabang-cabang lainnya. Ini
jelas soal keahlian khusus maksudnya.
10.30
aku menyelesaikan artikel pertamaku. Masih dengan bunyi ‘klik’ dan keyboard
yang terdengar. Dan tiba-tiba speaker si C menyala dengan sebuah lagu yang aku
tidak begitu kenal tetapi lagunya sangat merusak imajinasiku. Hilang
sudah--moodku untuk menulis artikel kedua.
“Ooh
oh yeahhh!” teriak si C dari meja kerjanya sambil mengikuti alunan musik yang
ia setel. Rasanya ingin ku bakar komputer yang ia gunakan.
Berisiiiiik! Kataku
dalam hati. Aku tidak tahu namanya siapa dan bagiku, berkomentar di hari
pertama kerja rasanya tidak baik. 15 menit ia memutar musik, 15 menit aku
terdiam. Tidak menulis sama sekali. Aku coba keluarkan headset dan kupakai.
Entah ini akan lebih baik atau buruk, setidaknya aku ingin ia tahu, lagunya
sangat menggangu. Aku setel beberapa lagu yang aku suka dan berharap suara yang
terdengar dari headsetku mengalahkan suara dari speaker si C. Tapi ternyata
sebaliknya.
“Hei-hei
berisik yaa!” pemilik perusahaan berteriak. Akhirnya kalimat yang diucap
pemilik perusahaan mewakilkan apa yang ingin ku ucap.
“Kita
akan makan-makan dan... karaoke sepertinya menarik” salah satu petinggi di
perusahaan tersebut memberi tahu semua karyawan kalau hari ini adalah jadwal
makan dan jalan bareng yang akan dilaksanakan seusai jam kerja. Ada dua hal di
benakku, (1) Well, beruntungnya aku masuk di hari yang tepat, (2) tantangan
untuk lebih akrab dengan karyawan lainnya, dimulai sore ini. Pukul 12.00 satu
persatu karyawan keluar kantor untuk membeli makan dan mungkin solat di masjid
yang tidak jauh dari kantor.
“Makan,
Yuk!” ajak si C kepadaku. Kutunjukan plastik dan tempat makan angry bird yang
menjadi tempat makan siangku. “Aku bawa bekel” setengah senyum mungkin terlihat
oleh si C. “Oke” lalu ia makan bersama huruf abjad lainnya di meja makan
karyawan. Aku makan di mejaku. Sendirian
Pikirku: Sewajib apa aku harus
bergabung dengan mereka saat ini?
Pikirku: Berapa hari aku akan makan
siang di mejaku sendiri?
Selesai
makan, aku lanjutkan pekerjaanku. Speaker C pun sudah tidak lagi terdengar
beberapa lagu yang merusak imajinasiku. Pukul 14.00 aku selesai menyelesaikan
pekerjaanku. Pukul 16.00 jam kantor usai. 2 jam aku habiskan dengan menonton
video klip dan membaca novel.
“Kita
ke tempat makan pakai mobil? Yang pakai motor?” terdengar suara si B kepada
salah satu petinggi perusahaan
“Terserah.
Kita bisa gunakan beberapa mobil yang memang kesini pakai mobil” sebagai
karyawan baru, diam dan mendengarkan dengan detail sepertinya sudah menjadi
sikap cukup baik.
Kulihat tidak sedikit yang pergi ke kantor dengan menggunakan
sepeda motor. Jadi aku tidak khawatir, setidaknya ada teman untuk pergi ke
tempat makan yang belum disebutkan tempat makannya. Ternyata semua hal di hari
itu tidak sesuai dengan ekspektasiku. Semua karyawan memakai mobil. Ya. Aku.
Sendirian. Lagi
Untunglah
aku mengenal tempat karaoke yang dimaksud. Aku bergegas menuju tempat itu tanpa
harus mengikuti mobil mereka dari belakang. Kuharap mereka datang lebih dulu.
Kali ini perkiraanku tepat. Sampai sana, mereka sedang menungguku
“Kita
satu jam ya. Kurang, nambah” kata si C
Sampai
di ruangan yang cukup sempit untuk menampung karyawan kurang dari 20, membuatku
harus duduk lebih dekat dengan lainnya.
“Heeei!
Lagu apaaa?!” teriak si C dan aku berpura-pura tidak mendengar, “Apaaa?” Bukan
karena speaker yang begitu keras mengeluarkan suara tetapi aku ingin ia
mengucapkannya berkali kali agar aku dan dia terlihat lebih lama dalam
berbincang. Mengikuti alunan lagu dan ternyata mereka tidak se-pendiam yang aku
kira, tetapi sebaliknya.
“Nyanyi
nyanyii!!” teriak lainnya kepadaku. Salah satu mic diberikan kepadaku. Dan.
Lagunya. Dangdut.
Cengkok
dan goyangannya tidak terlalu aku samakan. Si C melihatku sambil memicingkan
matanya yang memang sudah sipit dengan tatapan “Elo? Begini? Sebenernya?” tanpa
suara. Dan aku menjawab ekspresinya tersebut
“Apalagi
yang bisa aku tutupi?”