Sabtu, 25 Oktober 2014

Orang bilang tidak ada yang salah dengan apa yang telah kita lalui, begitupula dengan ajaran semua agama. Aku memilih hal di masa lalu untuk masa depan yang aku pikir itu baik, tetapi Tuhan berpikir sebaliknya. Oke, aku rasa menjalaninya dengan semangat saja sudah cukup baik, di mata Tuhan.
Mencoba dan menyimpulkan dari apa yang telah aku coba serta setelahnya berpikiran yang aneh-aneh adalah salah satu hal yang mungkin membuat segelintir orang, membuang-buang waktu. Tapi bagiku, itu hal mengasyikan. Kau akan bisa menangkap hal baik apa saja yang belum kau ketahui, dari melakukan itu. Jadi, pagi itu menjadi hari dimana aku akan merasa senang, bosan, panik. Belum, aku belum merasakannya, tapi sudah terbayang olehku. Hari pertama kerja, maksudku... sekedar magang. Ada beberapa hal di benakku sebelum aku memulai hari itu, (1) Berapa orang yang akan bisa dekat dengan ku karena aku, (2) sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, (3) aku merasa berdosa karena aku bekerja tidak sesuai dengan jurusanku. Pukul 8 semua karyawannya mulai bekerja
Menjadi orang yang tepat waktu, memang jadi bahan pertimbangan lagi setelahnya. Aku berangkat pukul 7, yang jarak antara rumahku dengan kantor dapat ditempuh sekiranya 20 menit. 40 km/jam untuk sesekali mendahului sebuah mobil. Aku tidak ingin datang terlalu cepat dan terlambat. Mengisi bahan bakar dan membeli lauk untuk makan siang, menjadi dua hal yang membuatku aman untuk tidak datang terlalu cepat. Aku harap ibu penjual makan melayani dengan lambat. Aku harap antrian panjang di tempat pengisian bahan bakar. Tapi berharap dua hal tersebut kayaknya kurang pas dengan arah ke kantor yang jarang dilewati pengendara sepeda motor dan mobil, tidak ada antrian di tempat pengisian bahan bakar. Begitu pula dengan ibu penjual makan, berharap ia lambat malah terasa ia melayaninya dengan menekan tombol NOS di setiap gerakannya.
Setengah perjalanan, pukul 07.10. Saat semua orang di pagi hari berharap jalanan tidak macet, aku berharap sebaliknya. Ternyata harapan semua oranglah yang menang. 3/4 perjalanan, pukul 07.15. Aku kebelet pipis. Mungkin itu sugesti otak ku saja untuk menggantikan hal menyebalkan dari harapan yang tidak kunjung terkabul, pagi itu, yang sebenarnya aku sama sekali tidak pernah minum banyak di pagi hari.
Cari kantornya. Menanyakan pada beberapa orang di pinggir jalan, aku harap mereka tidak sepenuhnya mengerti, agar aku dapat menanyakan lebih banyak orang di sekeliling, agar aku dapat sampai tepat waktu. Terbesit di otakku untuk menanyakan dimana posisi kantor itu berada, dengan kalimat yang berbelit-belit, tapi kayaknya itu malah ngebuat aku terlihat bodoh. Atau aku tanyakan ke beberapa orang di jalan dengan pertanyaan sama. Iseng. Hanya iseng, dan aku tidak ingin sampai kantor secepat mungkin. 07.30 aku melihat kantornya. Begitu sepi dan berdebu, karena memang dekat sekali dengan jalan raya. Aku sugestikan otakku untuk ingin sekali aku pipis. Pengisian bahan bakar. Aku cari pengisian bahan bakar untuk menggunakan toilet disana. Belum sampai pengisian bahan bakar, aku memikirkan hal apalagi agar aku tidak sampai kantor secepat mungkin. 07.40, lebih cepat dari yang ku kira. Oke, tak apalah, apa salahnya datang lebih awal. 07.45 aku sampai kantor tersebut. Sepi, hanya ada office boy yang sedang membersihkan beberapa meja kantor.

“Hari ini saya magang” kataku
“Silahkan duduk disini. Semua karyawan tidak akan datang sebelum pukul 8 tepat” jawabnya

Ya. Memang seharusnya. Dan tidak seharusnya aku datang terlalu pagi. Mungkin besok-besok aku harus mendatangi semua pengisian bahan bakar untuk sekedar pipis. Tepat pukul 8, kepala perusahaan datang. Dengan memakai kemeja setengah formal dan tidak berdasi, ia mempersilakan aku untuk masuk ruangannya. Rungannya sekitar 5 x 5 meter dan ber-AC. Cukup untuk kami berbicara dengan nyaman. Tiga buah kursi, satu kursi yang didudukinya, satu tempat dimana aku akan duduk, dan satu lagi mungkin biasanya ada dua karyawan yang menghampirinya untuk berdiskusi dengannya, dan itu dua orang.

“Kemari. Saya jelaskan detail soal pekerjaan kamu disini” katanya
“Jadi kamu akan membuat beberapa artikel perhari untuk diposting di website kami. Kamu akan mereview......” entah berapa kalimat yang keluar dari mulutnya, dan yang hanya kutangkap ‘membuat artikel dan mereview...’

Aku memperhatikan gerak-gerik ia berbicara, mungkin ia berharap aku mengerti dan akan memenuhi keinginannya dengan sempurna. Tab browser yang kulihat di notebooknya adalah beberapa website dengan tagline bermacam-macam. Ban, bunga, berlian, dan kebaya. Aku tidak bisa menebak berapa puluh juta omset yang ia dapat perbulan. Atau mungkin ratusan juta.

“Kaget?”
“Apa, Pak?” aku lebih kanget dia berkata ‘kaget?’
“Iya. Ini semua bisnis saya” katanya. Mungkin milyaran, pikirku
“Ini A, B, itu yang disana si C” ia memperkenalkan aku ke beberapa karyawan yang akan kerja di sekelilingku atau lebih tepatnya se-ruangan denganku. Sudah dua hari sampai sekarang aku bekerja, masih belum mengingat betul nama mereka satu-persatu.
“Oke. Kamu disini ya”. 

Aku menaruh barang-barangku di meja yang ia tunjukan untuk aku bekerja. Sunyi. A, B, dan C hanya terdengar suara ketikan mereka dan sesekali bunyi ‘klik’ pada mouse mereka. Sebenarnya ini suasana yang aku sukai. Tenang, tidak ada kegaduhan, dan aku dapat mengunggah imajinasiku ke dalam kalimat yang akan aku susun sekitar beberapa menit kedepan. “Oke” kataku dalam hati sebagai kata untuk memulai pekerjaanku. Aku berharap ada yang bertanya kepadaku, mengenai apapun, siapapun si A B atau C, dan aku sudah mempersiapkan jawabannya

“Tinggal dimana?”
“Dari universitas mana?”
“Bagian apa?”

3 pertanyaan yang ternyata tidak kudengar dari siapapun. Rasanya ingin aku menyapa si A yang duduk tepat di sebrangku. Tapi aku bodoh sekali dalam hal berbasa-basi. Aku urungkan basa-basi tersebut.
Aku cari beberapa sumber mengenai tema yang ku ulas. Rasanya beda. Aku terbiasa menulis kalimat dan kata-kata untuk sebuah buku, novel. Kali ini aku menulis artikel yang mengharuskan artikel tersebut dibaca dan diminati banyak orang. Mau tidak mau, aku harus lebih persuasif dalam mengelola kalimat untuk artikel tersebut. Aneh rasanya. Tapi ini seperti sebuah hukum pekerjaan. Jika kamu seorang koki, seharusnya tidak hanya kue yang bisa kamu buat. Menyebalkan memang membiarkan satu bidang pekerjaan mempunyai cabang-cabang lainnya. Ini jelas soal keahlian khusus maksudnya.
10.30 aku menyelesaikan artikel pertamaku. Masih dengan bunyi ‘klik’ dan keyboard yang terdengar. Dan tiba-tiba speaker si C menyala dengan sebuah lagu yang aku tidak begitu kenal tetapi lagunya sangat merusak imajinasiku. Hilang sudah--moodku untuk menulis artikel kedua.

“Ooh oh yeahhh!” teriak si C dari meja kerjanya sambil mengikuti alunan musik yang ia setel. Rasanya ingin ku bakar komputer yang ia gunakan. 

Berisiiiiik! Kataku dalam hati. Aku tidak tahu namanya siapa dan bagiku, berkomentar di hari pertama kerja rasanya tidak baik. 15 menit ia memutar musik, 15 menit aku terdiam. Tidak menulis sama sekali. Aku coba keluarkan headset dan kupakai. Entah ini akan lebih baik atau buruk, setidaknya aku ingin ia tahu, lagunya sangat menggangu. Aku setel beberapa lagu yang aku suka dan berharap suara yang terdengar dari headsetku mengalahkan suara dari speaker si C. Tapi ternyata sebaliknya.

“Hei-hei berisik yaa!” pemilik perusahaan berteriak. Akhirnya kalimat yang diucap pemilik perusahaan mewakilkan apa yang ingin ku ucap.

“Kita akan makan-makan dan... karaoke sepertinya menarik” salah satu petinggi di perusahaan tersebut memberi tahu semua karyawan kalau hari ini adalah jadwal makan dan jalan bareng yang akan dilaksanakan seusai jam kerja. Ada dua hal di benakku, (1) Well, beruntungnya aku masuk di hari yang tepat, (2) tantangan untuk lebih akrab dengan karyawan lainnya, dimulai sore ini. Pukul 12.00 satu persatu karyawan keluar kantor untuk membeli makan dan mungkin solat di masjid yang tidak jauh dari kantor.

“Makan, Yuk!” ajak si C kepadaku. Kutunjukan plastik dan tempat makan angry bird yang menjadi tempat makan siangku. “Aku bawa bekel” setengah senyum mungkin terlihat oleh si C. “Oke” lalu ia makan bersama huruf abjad lainnya di meja makan karyawan. Aku makan di mejaku. Sendirian

Pikirku: Sewajib apa aku harus bergabung dengan mereka saat ini?
Pikirku: Berapa hari aku akan makan siang di mejaku sendiri?

Selesai makan, aku lanjutkan pekerjaanku. Speaker C pun sudah tidak lagi terdengar beberapa lagu yang merusak imajinasiku. Pukul 14.00 aku selesai menyelesaikan pekerjaanku. Pukul 16.00 jam kantor usai. 2 jam aku habiskan dengan menonton video klip dan membaca novel.

“Kita ke tempat makan pakai mobil? Yang pakai motor?” terdengar suara si B kepada salah satu petinggi perusahaan
“Terserah. Kita bisa gunakan beberapa mobil yang memang kesini pakai mobil” sebagai karyawan baru, diam dan mendengarkan dengan detail sepertinya sudah menjadi sikap cukup baik. 

Kulihat tidak sedikit yang pergi ke kantor dengan menggunakan sepeda motor. Jadi aku tidak khawatir, setidaknya ada teman untuk pergi ke tempat makan yang belum disebutkan tempat makannya. Ternyata semua hal di hari itu tidak sesuai dengan ekspektasiku. Semua karyawan memakai mobil. Ya. Aku. Sendirian. Lagi
Untunglah aku mengenal tempat karaoke yang dimaksud. Aku bergegas menuju tempat itu tanpa harus mengikuti mobil mereka dari belakang. Kuharap mereka datang lebih dulu. Kali ini perkiraanku tepat. Sampai sana, mereka sedang menungguku

“Kita satu jam ya. Kurang, nambah” kata si C
Sampai di ruangan yang cukup sempit untuk menampung karyawan kurang dari 20, membuatku harus duduk lebih dekat dengan lainnya.
“Heeei! Lagu apaaa?!” teriak si C dan aku berpura-pura tidak mendengar, “Apaaa?” Bukan karena speaker yang begitu keras mengeluarkan suara tetapi aku ingin ia mengucapkannya berkali kali agar aku dan dia terlihat lebih lama dalam berbincang. Mengikuti alunan lagu dan ternyata mereka tidak se-pendiam yang aku kira, tetapi sebaliknya.

“Nyanyi nyanyii!!” teriak lainnya kepadaku. Salah satu mic diberikan kepadaku. Dan. Lagunya. Dangdut.

Cengkok dan goyangannya tidak terlalu aku samakan. Si C melihatku sambil memicingkan matanya yang memang sudah sipit dengan tatapan “Elo? Begini? Sebenernya?” tanpa suara. Dan aku menjawab ekspresinya tersebut

“Apalagi yang bisa aku tutupi?”


Sabtu, 23 Agustus 2014

Tiap kali gue mau nulis, tidak ada satu kalimat untuk merangkai judulnya. Buat gue, nulis salah satu cara ningkatin mood. Belakangan gue baru sadar, ini satu-satunya cara positif yang gue punya buat ngilangin males.

Jadi gini...
Beberapa hari lalu, gue dapet tugas kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang. Tugasnya adalah membuat aplikasi sistem pakar yang dibuat dari aplikasi Expert System Builder. Agak ragu sebenernya gue buat bikin aplikasi. Gue ragu sama kemampuan gue. Apalagi partner gue waktu itu, punya kepribadian sama dengan gue, nggak pernah serius... sorry Uje hehe
Tugas kelompok yang diberikan dosen gue bertemakan, UKM (Usaha Kecil Menengah) (setidaknya ada beberapa kelompok yang bertemakan hal itu). Jadi dari tugas itu, kalo gue rinciin gue harus melakukan:
  1. Cari ide
  2. Ide tersebut disangkut pautin ke permasalahan biar terkesan asik buat dibahas
  3. Bikin sistem pakarnya

Untuk tugas tipe cari-cari ide kayak gitu, gue paling suka. Gue suka banget berkhayal. Untuk mencari ide, gue berkhayal dari hal-hal yang umum dulu, seperti bidangnya. Setelah itu, gue cari permasalahan apa aja di bidang tersebut. Gue dapatkan satu, “Menentukan metode pemasaran yang tepat untuk OnlineShop”. Itu ide dari gue. Keesokan harinya, Uje coba kirim via whatsapp ide dari dia. “Menentukan pekerjaan berdasarkan jenis kepribadian”. Gue langsung antusias ngerjainnya.

Gue cari-cari informasi mengenai jenis kepribadian terlebih dahulu. Setiap halaman yang gue temui, berujuk ke halaman untuk menilai apa jenis kepribadian seseorang. Gue mengikuti semua halaman tersebut. Sebanyak 3 tes kepribadian, semua hasilnya sama. Sebelumnya gue rinciin dulu jenis-jenis kepribadian:

  1. Ekstrovert, orang yang suka mengekspresikan diri pada dunia luar. Tidak suka sepi dan terlihat gembira dalam perkumpulan organisasi
  2. Introvert, kebalikannya dari ekstrovert. Pribadi ini lebih suka menyendiri, suka menulis, membaca, dan suka melakukan kegiatan tanpa sangkut paut orang lain
  3. Ambivert, orang yang memiliki persentase seimbang (Ekstrovert 50%, Introvert 50%). Dalam hal ini, pribadi demikian memiliki mood yang tidak menentu.

Awalnya gue pikir, gue adalah pribadi Ekstrovert. Gue terlihat tidak pendiam di kelas, gue juga mudah dalam memulai pembicaraan terlebih dahulu. Tetapi hasil tes tersebut menyatakan bahwa gue pribadi Introvert 90%. Dimana temen kelas gue yang gue pikir dia Introvert pun, hanya menghasilkan introvert 60%. Dari hasil tes dan tugas dari dosen tersebut, gue mulai berfikir apa yang membuat gue menjadi seorang introvert. Ternyata ada beberapa yang gue ketahui dari pribadi introvert, secara mendalam:

  1. Tidak suka keramaian. Gue paling tidak suka yang namanya berkumpul dengan orang banyak. Gue lebih suka sepi, tenang, dan nggak gaduh
  2. Lebih suka mengerjakan pekerjaan tanpa bergabung dengan orang lain. Walaupun pekerjaan rumah menumpuk, gue lebih suka mengerjakan pekerjaan itu sendiri. Gue merasa nyaman di rumah sendirian. Gue juga lebih suka mengerjakan tugas sendirian, karena bagi gue sangat sulit menyatukan pikiran dengan orang lain
  3. Suka nulis. Seperti inilah yang sedang gue kerjakan
  4. Selalu merencanakan sesuatu, di jauh-jauh hari. Untuk pakaian yang akan gue kenakan minggu depan, gue sudah merencanakannya
  5. Temannya sedikit. Baru gue sadari, gue cuma punya temen itu-itu aja selama hampir 3 tahun gue di SarMag
  6. Berkumpul dengan banyak orang adalah hal yang membosankan. Gue lebih memilih nonton bioskop sendirian daripada nonton rame-rame
  7. Lebih mudah mengingat dalam jangka waktu lama. Apa saja yang baru dikatakan oleh orang lain, lebih tidak ingat dibanding hal-hal yang sudah lama dikatakan
  8. Berinisiatif tinggi apabila ada hubungannya dengan diri sendiri. Apapun yang gue lakukan dengan semangat, semuanya berhubungan dengan gue. Poin ini bisa diartikan egois. Pribadi Introvert memiliki tingkat keegoisan lebih tinggi dibanding pribadi ekstrovert.
8 poin diatas adalah hal-hal yang gue rangkai sendiri berdasarkan pernyataan yang gue dapat dari lulusan bidang pemusatan pikiran dan beberapa sifat yang gue ketahui dari diri sendiri.

Sabtu, 09 Agustus 2014

Kata pertama yang gue ketik dari tulisan ini, tepat pada waktu 12.13 WIB. Dalam tulisan ini, gue akan menceritakan sesuatu mengenai pengalaman mudik gue ke kampung (orang) liburan lebaran kemarin. Tema tersebut juga terlintas saat sebelumnya gue nyalain leptop buat nyari tugas dan akhirnya buka MS. Word. Gue juga ingin mengetahui, berapa waktu yang diperlukan saat gue menulis satu tulisan. Gue ngetik tulisan ini di word terlebih dahulu.

Mudik...
Mudik saat lebaran udah menjadi tradisi banget buat orang-orang khususnya orang Jakarta. Bagi gue, yang asli orang Jakarta, Cuma bisa liburan lebaran dengan menikmati beberapa tempat wisata di sekitarnya. Kalo tahun lalu gue ke puncak, bokap gue engga mau lagi. Libur lebaran niat mau tamasya ke daerah puncak Bogor, malah memaksa lo tamasya di pinggiran tol ciawi. Sebenernya gue punya kampung. Kampung gue di daerah Pandeglang, Banten. Tiap kali gue nonton liputan seputar mudik, gue pengen ngerasain rasanya suasana ‘beneran’ mudik. Pasalnya, jalur menuju kampung gue, bukan jalur dimana biasanya orang pada mudik. Gue nggak merasakan macet.

Mudik ke Pandeglang yang bisa ditempuh dengan waktu sekitar 3 jam, ngebuat bokap gue percaya, kalo gue bisa nyetir dengan waktu segitu. Ke Pandeglang jadi tujuan paling jauh gue bawa mobil. Gue juga nggak bisa nyetir malam hari. Kadang gue ngerasa pandangan gue menyempit kalo udah malem, apalagi kalo bawa mobil.

Lebaran tahun ini, gue diajak saudara gue ke Purwokerto. Ini bakalan jadi perjalanan terjauh gue dengan memakai mobil. Om gue meminta untuk pergi di malam hari, karena dia matanya lebih kuat melek malem daripada siang hari. Gue gembira, karena kalo siang hari, pasti Bokap gue bakalan nyuruh gue yang bawa mobil. Sekitar 15 jam perjalanan menuju Purwokerto saat itu. Sebelumnya gue mensugestikan diri gue kalo perjalanan ini bakalan lebih dari 15 jam, alhasil gue nggak merasa kalo perjalanan ini lama. Disana gue menginap sekitar 2 hari. Setidaknya badan Bokap gue nggak ringkih-ringkih banget buat perjalanan pulang.

Gue pulang sekitar pukul 10 pagi. Sebelum pulang, orang yang gue inapin rumahnya memberitahu, kalo perjalanan pulang pastinya bakalan lebih lama. Ternyata bener, belum sampe Tasik, gue udah dialihin sana-sini. Macet yang panjang ngebuat bokap gue dengan ekstrem menerobos ke jalur kanan. Sekitar pukul 11 malam, gue masih berada di Garut. Mata gue udah nggak kuat nemenin bokap gue nyetir. Gue pun tertidur. Bangun-bangun gerah emang jadi cara bangun paling nggak enak. Ternyata AC nya dimatiin sama bokap gue.
“Kenapa dimatiin?”
“Biar kamu bangun terus gantian nyetir”

Malam itu pukul 1 dini hari, gue gantian nyetir sama bokap. Mata gue masih ngantuk banget tapi bokap keliatan capek banget. Gue pun mencari cara biar nggak ngantuk. Gue pesen kopi dan pop mie di pinggir tol cileunyi. Setelah selesai makan, gue mensugestikan diri gue biar nggak ngantuk. Nyokap gue ngewanti-wanti kecepatan gue nggak lebih dari 80km/h. Setelah masuk Cileunyi, kendaraan roda empat tidak terlihat ramai. Gue yang mengunakan jalur kiri hanya sesekali melihat kendaraan melewati mobil gue saat itu. Buah Batu, Moh Toha udah gue lewatin. Kecepatan stabil ngebuat pikiran gue nggak bekerja. Nggak ada momen apa-apa yang bisa ngebuat gue tetep fokus mengendarai mobil. Gue lihat di kaca tengah, nyokap tertidur, gue pun ambil 100km/h biar fokus dan nggak ngantuk. Jalanan yang nggak rata dan alunan musik sayup-sayup ngebuat gue ngerasa kayak diayun-ayun sambil disetelin musik sebelum tidur. Gue belo-beloin mata gue. Entah sudah berapa kali gue ngeliat papan kilometer di perbatasan jalan.

Sampe tol jatiluhur, gue agak semangat dan nggak terlalu ngantuk. Gue berharap, mendekati cikarang, banyak mobil dan ngebuat gue jadi fokus sama jalanan. Lebih banyak mobil dari arah Cikampek daripada arah gue saat itu. Sebelum masuk Cikarang Utama, udah tersendat macet. Gue pun nggak tau jarak seberapa jauh antara percabangan itu sampe ke pintu tol Cikarang Utama. Gue pake jalur ketiga dari kanan, sesuai sama kecepatan gue saat itu. Macet yang disebabkan orang pada berenti di pinggir jalan, ngebuat gue melek dan memperhatikan orang-orang tersebut. tiba-tiba ngantuk itu dateng lagi. Gue coba nyanyi dan gedein musik biar nggak ngantuk. Baru sebentar gue nyanyi, adek gue bangun. Akhirnya gue kecilin volumenya. Semua orang didalem mobil tertidur lelap. Gue pun nggak tega ngebangunin bokap gue buat gantian nyetir karena gue ngantuk. Gue biarkan dia tertidur, dan biarkan gue nyetir dengan kondisi ngantuk berat. Sat itu pukul 2.30 WIB. Mata gue mulai nggak fokus. Pertama kalinya gue merasakan nyetir dengan mata kebuka dan pikiran nggak sadar. Stir yang terlihat lurus tiba-tiba gue udah berada di jalur paling kanan dan hampir nabrak pembatas jalan. Tuhan masih mau nyuruh gue nebus dosa-dosa gue, gue dan keluarga gue terselamatkan. Saat gue sadar, hampir sejengkal lagi mobil gue menyentuh pembatas jalan. Herannya, tidak ada satupun mobil yang mengklakson gue saat itu. Melenceng dari jalur 3 ke jalur 1 tanpa sadar, ngebuat ngantuk gue bener-bener ilang.

Akhirnya gue sampe tol Bekasi Barat dengan selamat. Bokap gue bangun dan bilang
“Bawa mobilnya enak tumben nggak ngebut ya”

Entah sebenernya dia tahu atau beneran terlelap. Kalimat terakhir sebelum kalimat ini tertulis pada waktu 12.45 WIB

Jumat, 18 Juli 2014

Kehidupan perkeretaan saat ini ngebuat gue gatel banget buat jadiin tema tulisan. Dibanding dua tahun yang lalu, kereta jabodetabek dirasa cukup meningkat dari segi kualitas dan kenyamanan bagi penumpang. Kalo dulu diperon tempat gue nunggu kereta Bogor, selalu disuit-suitin dari atas gerbong kereta, sekarang udah engga lagi. Kereta ekonomi yang sekarang berubah jadi CommuterLine, sekarang sudah musnah. Akhirnya doa gue terkabulkan.

Kehidupan mahasiswi, kuliah di Depok, dan macetnya Jakarta, memaksa gue ngerasain kereta ekonomi. Kondisi keuangan gue juga menentukan pilihan antara kereta ekonomi dan kereta AC saat itu. Pedagang dari gerbong ke gerbong, asap rokok dimana-mana, kenek kereta (read: orang yang gelantungan di gerbong kereta), orang-orang diatas gerbong kereta, pintunya yang terbuka saat kereta berjalan, dan tiket seharga seribu lima ratus nggak sebanding dengan keselamatan penumpangnya. Akhirnya setelah sekitar 1 tahun gue ngerasain nggak nyamannya pake kereta ekonomi, CommuterLine diberlakukan. Dengan harga yang hampir sama dengan kereta ekonomi dan kenyamanan yang berbeda jauh, ngebuat semua orang menggunakan CommuterLine. AC, kipas angin, dan pembelian tiket yang dirasa tidak mempersulit penumpang, merupakan gebrakan baru bagi PT. KAI.

Pagi itu gue berangkat ngampus ke Depok. Sengaja gue naik kereta dari stasiun Kranji terus ikut ke arah Bekasi dulu, biar dapet tempat duduk. Sampe di stasiun Bekasi, tepat didepan gue ibu hamil. Dia masuk dari pintu yang nggak tepat, bukan pintu dekat tempat duduk prioritas. Mau tidak mau gue mempersilakan tempat duduk gue buat dia. Saat itu gue berharap jarak Kranji ke Bekasi sama dengan Bekasi ke Manggarai, ‘rasa duduk’ sementara biar terbayarkan terlebih dahulu.

Sekitar lebih dari 10 menit gue di stasiun Bekasi. Beberapa kereta Jawa terlihat melintas dari arah yang sama untuk keberangkatan JakartaKota. Gue lihat jam ternyata kereta yang gue gunakan telat keberangkatannya gara-gara banyak kereta Jawa melintas. Mengalah tidak selalu kalah, mungkin itu slogan CommuterLine untuk kereta Jawa. Akhirnya CommuterLine berangkat dari arah Bekasi. Baru sampe Kranji, gue udah kejempet-jempet. Tas yang berisi laptop, gue angkat keatas biar nggak kegencet orang-orang.

Lebih memilih kereta atau bis, sama kayak memilih soal ujian banyak pilihan ganda atau dikit essay. Naik bis macet, naik kereta kegendet. Sampai Cakung, gue udah nggak bisa ngerasain udara seger lagi. Nggak tinggi, emang jadi masalah banget saat itu. Nggak bisa menggapai pegangan kereta dan berada dibawah ketek orang merupakan risiko utama orang pendek, didalem kereta yang penuh. Sampai di Satsiun Buaran, kondisi gue makin memprihatinkan. Tiba-tiba ada seorang ibu bawa anak masuk kedalam kereta. Dia masuk dari pintu yang salah juga. Orang-orang sekitarnya mulai (pura-pura) tidur, tapi matanya kedip-kedip.

Kereta dari arah Bekasi sama halnya kereta dari arah Bogor/Depok, sama penuhnya, sama ‘aromanya’. Berangkat dan pulang menggunakan kereta, menghabiskan sekitar 4 jam perjalanan. Gue pulang dan menunggu kereta ke arah Manggarai di stasiun Tanjung Barat. Malam itu sekitar pukul 20.30, kereta yang dateng 7 : 1, arah Bogor dan JakartaKota. Kereta yang mau gue gunakan berada di Cilebut. Gue kira ini bakalan sepi dan dapet duduk karena emang udah malem, ternyata kereta yang telat ngebuat penumpang makin menumpuk. Gue nggak dapet tempat duduk. Berharap ada yang ngasih gue tempat duduk, gue melipir ke arah dimana kebanyakan bapak-bapak atau mas-mas yang duduk. Cara gue berhasil
Sampai di stasiun Manggarai, gue berpindah ke peron jalur 4, tempat CommuterLine Bekasi berhenti. Sampai di peron 4, gue berada di lapisan kelima dari jejeran orang-orang yang menunggu kereta Bekasi. Entah kenapa kereta Jawa selalu diberangkatkan dan dipulangkan sesuai sama jadwal berangkat dan pulang orang-orang kerja. Gue nyelip-nyelip diantara kerumunan oran gdan berhasil di jejeran paling depan. Tubuh kecil gue bermanfaat.

“Jalur 4 segera masuk CommuterLine tujuan Jatinegara-Cakung-Bekasi”. Pengawas peron menginformasikan penumpang tujuan Bekasi. Gue pun siap-siap di peron jalur 4. Menunggu kereta yang hampir memasuki peron, sama kayak memasuki aba-aba lari jarak dekat. 50 meter kereta memasuki jalur 4, orang-orang tengak-tengok memastikan kereta arah Bekasi sudah terlihat. 30 meter, orang-orang mulai memperkirakan posisinya untuk tepat berdiri pada posisi pintu kereta. 20 meter, orang-orang mulai merapat kearah kemungkinan pintu kereta berada tepat diposisinya. 10 meter, gue kejempet-jempet sama para bapak-bapak beringas yang turun dari kereta dan gue kedorong-dorong sampai akhirnya gue sudah tidak lagi di peron 4. Satu hal yang gue dapet, tepat didepan pintu kereta bukanlah posisi nunggu terbaik.


Selasa, 21 Mei 2013


14.05.13

Senin itu lagi turun ujan gede banget. Hari itu gue ngalamin banyak hal konyol. Kadang kalo gue ngalamin satu hal konyol dalam satu hari, entah kenapa gue selalu menganggap kalo hal konyol yang barusan gue lakuin bukan terakhir di hari tersebut, iya itu permulaan. Dan emang beneran kejadian, entah apa, kayanya emang sugesti. Hari itu lagi sengaja gue engga bawa motor ke kosan. Jadi buat les lia gue pun harus mengandalkan angkot, engga mengandalkan kalo mengandalkan pasti engga bayar. Jadi malam itu gue udah dandan cantik, rapih, wangi walaupun kata temen gue gak berubah, gue tetep optimis sama dandanan hari itu. Dengan membawa payung yang gak bisa dilipet dan dimasukin ke dalem tas, jadi gue anggep itu tongkat ajaib selama pergi ke lia. Gue pun jalan kaki menuju depan gang yang kalo lo jalan sambil bawa leptop, mulut lo gak bakal bisa mingkem karna ngos ngosan.

Sampe depan gang gue memutuskan untuk membeli roti karna perut gue labilnya kek anak sma yang baru putus sehari. Gue pun nyebrang dan membeli roti depan kampus gue. "Berapa mba?". "Lima ribu". Pas gue mau ambil dompet di tas, ternyata dompet gue ketinggalan dikosan. Saat itu rasanya gue mau enyah dari itu tempat. Bodohnya gue pura-pura sok nyari nyari dompet berharap si penjual naungin ngerti kalo dompet gue ketinggalan. Kayanya emang mbanya dableg atau gimana mukanya kek nungguin gue ngeluarin kalimat yang memalukan. "maaf mba dompet saya ketinggalan" langsung aja gue pergi dari itu tempat. Gue bingung berharap ada orang yang nganterin dompet gue ke depan gang. Gue pun gak rela kalo harus bolak balik ke depan gang yang jauhnya kek jarak LDRan. Akhirnya gue memutuskan untuk PP naik ojeg. Begitu sampe depan gang lagi, si ojeg pun dengan tega getok harga PP sepuluh ribu rupiah. Eh gilak itu gue bisa pulang pergi kampus simatupang tanpa harus nawar dulu. Gue pun engga mau kalah sama si ojeg, gue nego harga yang dia getok. Akhirnya kita sepakat enam ribu rupiah.

Akhirnya gue didalem angkot. Sampe di lia, gue ketemu seorang temen kelas gue lagi duduk, gue pun ikutan. Sebenernya gue paling males kalo dateng kekelas itu lebih cepet atau tepat waktu, kenapa? Karna asik kalo dateng belakangan jadi perhatian tiap orang HAHAHA. “fit masuk yuk” kata widha temen gue. “yaelah wid engga ah entar aja sih ma’am nya juga lelet kalo dateng” kata gue. “eh lo udah belajar belom?”. “lah belajar buat apaan?”. “kan sekarang uts gimane lo”. “yuk masuk yuk buru!”. Segera gue masuk kelas. Gue gak tau kalo hari itu uts. Tapi untung nilai gue memuaskan hehehe B-). Disitu gue selalu ngingetin diri gue sendiri jangan lupa payung jangan lupa payung. Bel berdering, gue nebeng sama temen gue. Pas sampe parkiran, gue inget payung mama gue, kelas gue di lantai 3 dan itu sama ngos ngosannya kek dari kapuk ke kosan. Gue pun diturunin depan gang sama temen gue yang baik, ramah, rajin menabung, tapi kadang suka annoy bgt kalo smsan.

Malem itu rencananya gue mau ambil laudryan gue. Gak jauh dari gang, ada yang namanya green box. Itu tempat emang harumnya kelewatan, gue seneng kalo lewatin green box rasanya pengen ulang-ulang langkah *apasih. Gue pun ngasih kertas laundryan ke pelayannya. Tumben-tumbenan malem itu yg ngelayanin anak kecil ya masih sd lah kira-kira. Pas dia baca kertasnya, gue sama dia tiba-tiba diem dan bingung. Astaga! Itu kertas laundryan deket kosan gue. Gue lupa kalo minggu kemaren gue naro laundryan di deket kosan gue. Untung yang ngelayanin anak bau kencur jadi malu-maluinnya gue berkurang 50%. Dijalan menuju kosan, gue merenung entah apa yang gue renungin pas sadar payung sekaligus tongkat gue itu bagian bawahnya udah keisi aqua gelas kosong. Gak oke banget emang udah kaya mulung malem-malem.

Itu cerita gue di senin konyol, mana ceritamu :3