Kehidupan perkeretaan saat ini ngebuat gue gatel
banget buat jadiin tema tulisan. Dibanding dua tahun yang lalu, kereta
jabodetabek dirasa cukup meningkat dari segi kualitas dan kenyamanan bagi
penumpang. Kalo dulu diperon tempat gue nunggu kereta Bogor, selalu disuit-suitin
dari atas gerbong kereta, sekarang udah engga lagi. Kereta ekonomi yang
sekarang berubah jadi CommuterLine, sekarang sudah musnah. Akhirnya doa gue
terkabulkan.
Kehidupan mahasiswi, kuliah di Depok, dan macetnya
Jakarta, memaksa gue ngerasain kereta ekonomi. Kondisi keuangan gue juga
menentukan pilihan antara kereta ekonomi dan kereta AC saat itu. Pedagang dari
gerbong ke gerbong, asap rokok dimana-mana, kenek kereta (read: orang yang
gelantungan di gerbong kereta), orang-orang diatas gerbong kereta, pintunya
yang terbuka saat kereta berjalan, dan tiket seharga seribu lima ratus nggak sebanding
dengan keselamatan penumpangnya. Akhirnya setelah sekitar 1 tahun gue ngerasain
nggak nyamannya pake kereta ekonomi, CommuterLine diberlakukan. Dengan harga
yang hampir sama dengan kereta ekonomi dan kenyamanan yang berbeda jauh,
ngebuat semua orang menggunakan CommuterLine. AC, kipas angin, dan pembelian
tiket yang dirasa tidak mempersulit penumpang, merupakan gebrakan baru bagi PT.
KAI.
Pagi itu gue berangkat ngampus ke Depok. Sengaja gue
naik kereta dari stasiun Kranji terus ikut ke arah Bekasi dulu, biar dapet
tempat duduk. Sampe di stasiun Bekasi, tepat didepan gue ibu hamil. Dia masuk
dari pintu yang nggak tepat, bukan pintu dekat tempat duduk prioritas. Mau tidak
mau gue mempersilakan tempat duduk gue buat dia. Saat itu gue berharap jarak Kranji
ke Bekasi sama dengan Bekasi ke Manggarai, ‘rasa duduk’ sementara biar
terbayarkan terlebih dahulu.
Sekitar lebih dari 10 menit gue di stasiun Bekasi. Beberapa
kereta Jawa terlihat melintas dari arah yang sama untuk keberangkatan
JakartaKota. Gue lihat jam ternyata kereta yang gue gunakan telat
keberangkatannya gara-gara banyak kereta Jawa melintas. Mengalah tidak selalu
kalah, mungkin itu slogan CommuterLine untuk kereta Jawa. Akhirnya CommuterLine
berangkat dari arah Bekasi. Baru sampe Kranji, gue udah kejempet-jempet. Tas yang
berisi laptop, gue angkat keatas biar nggak kegencet orang-orang.
Lebih memilih kereta atau bis, sama kayak memilih soal
ujian banyak pilihan ganda atau dikit essay. Naik bis macet, naik kereta
kegendet. Sampai Cakung, gue udah nggak bisa ngerasain udara seger lagi. Nggak tinggi,
emang jadi masalah banget saat itu. Nggak bisa menggapai pegangan kereta dan
berada dibawah ketek orang merupakan risiko utama orang pendek, didalem kereta
yang penuh. Sampai di Satsiun Buaran, kondisi gue makin memprihatinkan. Tiba-tiba
ada seorang ibu bawa anak masuk kedalam kereta. Dia masuk dari pintu yang salah
juga. Orang-orang sekitarnya mulai (pura-pura) tidur, tapi matanya kedip-kedip.
Kereta dari arah Bekasi sama halnya kereta dari arah
Bogor/Depok, sama penuhnya, sama ‘aromanya’. Berangkat dan pulang menggunakan
kereta, menghabiskan sekitar 4 jam perjalanan. Gue pulang dan menunggu kereta
ke arah Manggarai di stasiun Tanjung Barat. Malam itu sekitar pukul 20.30,
kereta yang dateng 7 : 1, arah Bogor dan JakartaKota. Kereta yang mau gue
gunakan berada di Cilebut. Gue kira ini bakalan sepi dan dapet duduk karena
emang udah malem, ternyata kereta yang telat ngebuat penumpang makin menumpuk. Gue
nggak dapet tempat duduk. Berharap ada yang ngasih gue tempat duduk, gue
melipir ke arah dimana kebanyakan bapak-bapak atau mas-mas yang duduk. Cara gue
berhasil
Sampai di stasiun Manggarai, gue berpindah ke peron
jalur 4, tempat CommuterLine Bekasi berhenti. Sampai di peron 4, gue berada di
lapisan kelima dari jejeran orang-orang yang menunggu kereta Bekasi. Entah kenapa
kereta Jawa selalu diberangkatkan dan dipulangkan sesuai sama jadwal berangkat
dan pulang orang-orang kerja. Gue nyelip-nyelip diantara kerumunan oran gdan
berhasil di jejeran paling depan. Tubuh kecil gue bermanfaat.
“Jalur
4 segera masuk CommuterLine tujuan Jatinegara-Cakung-Bekasi”. Pengawas peron
menginformasikan penumpang tujuan Bekasi. Gue pun siap-siap di peron jalur 4.
Menunggu kereta yang hampir memasuki peron, sama kayak memasuki aba-aba lari
jarak dekat. 50 meter kereta memasuki jalur 4, orang-orang tengak-tengok
memastikan kereta arah Bekasi sudah terlihat. 30 meter, orang-orang mulai
memperkirakan posisinya untuk tepat berdiri pada posisi pintu kereta. 20 meter,
orang-orang mulai merapat kearah kemungkinan pintu kereta berada tepat
diposisinya. 10 meter, gue kejempet-jempet sama para bapak-bapak beringas yang
turun dari kereta dan gue kedorong-dorong sampai akhirnya gue sudah tidak lagi
di peron 4. Satu hal yang gue dapet, tepat didepan pintu kereta bukanlah posisi
nunggu terbaik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar