Jumat, 18 Juli 2014

Kehidupan perkeretaan saat ini ngebuat gue gatel banget buat jadiin tema tulisan. Dibanding dua tahun yang lalu, kereta jabodetabek dirasa cukup meningkat dari segi kualitas dan kenyamanan bagi penumpang. Kalo dulu diperon tempat gue nunggu kereta Bogor, selalu disuit-suitin dari atas gerbong kereta, sekarang udah engga lagi. Kereta ekonomi yang sekarang berubah jadi CommuterLine, sekarang sudah musnah. Akhirnya doa gue terkabulkan.

Kehidupan mahasiswi, kuliah di Depok, dan macetnya Jakarta, memaksa gue ngerasain kereta ekonomi. Kondisi keuangan gue juga menentukan pilihan antara kereta ekonomi dan kereta AC saat itu. Pedagang dari gerbong ke gerbong, asap rokok dimana-mana, kenek kereta (read: orang yang gelantungan di gerbong kereta), orang-orang diatas gerbong kereta, pintunya yang terbuka saat kereta berjalan, dan tiket seharga seribu lima ratus nggak sebanding dengan keselamatan penumpangnya. Akhirnya setelah sekitar 1 tahun gue ngerasain nggak nyamannya pake kereta ekonomi, CommuterLine diberlakukan. Dengan harga yang hampir sama dengan kereta ekonomi dan kenyamanan yang berbeda jauh, ngebuat semua orang menggunakan CommuterLine. AC, kipas angin, dan pembelian tiket yang dirasa tidak mempersulit penumpang, merupakan gebrakan baru bagi PT. KAI.

Pagi itu gue berangkat ngampus ke Depok. Sengaja gue naik kereta dari stasiun Kranji terus ikut ke arah Bekasi dulu, biar dapet tempat duduk. Sampe di stasiun Bekasi, tepat didepan gue ibu hamil. Dia masuk dari pintu yang nggak tepat, bukan pintu dekat tempat duduk prioritas. Mau tidak mau gue mempersilakan tempat duduk gue buat dia. Saat itu gue berharap jarak Kranji ke Bekasi sama dengan Bekasi ke Manggarai, ‘rasa duduk’ sementara biar terbayarkan terlebih dahulu.

Sekitar lebih dari 10 menit gue di stasiun Bekasi. Beberapa kereta Jawa terlihat melintas dari arah yang sama untuk keberangkatan JakartaKota. Gue lihat jam ternyata kereta yang gue gunakan telat keberangkatannya gara-gara banyak kereta Jawa melintas. Mengalah tidak selalu kalah, mungkin itu slogan CommuterLine untuk kereta Jawa. Akhirnya CommuterLine berangkat dari arah Bekasi. Baru sampe Kranji, gue udah kejempet-jempet. Tas yang berisi laptop, gue angkat keatas biar nggak kegencet orang-orang.

Lebih memilih kereta atau bis, sama kayak memilih soal ujian banyak pilihan ganda atau dikit essay. Naik bis macet, naik kereta kegendet. Sampai Cakung, gue udah nggak bisa ngerasain udara seger lagi. Nggak tinggi, emang jadi masalah banget saat itu. Nggak bisa menggapai pegangan kereta dan berada dibawah ketek orang merupakan risiko utama orang pendek, didalem kereta yang penuh. Sampai di Satsiun Buaran, kondisi gue makin memprihatinkan. Tiba-tiba ada seorang ibu bawa anak masuk kedalam kereta. Dia masuk dari pintu yang salah juga. Orang-orang sekitarnya mulai (pura-pura) tidur, tapi matanya kedip-kedip.

Kereta dari arah Bekasi sama halnya kereta dari arah Bogor/Depok, sama penuhnya, sama ‘aromanya’. Berangkat dan pulang menggunakan kereta, menghabiskan sekitar 4 jam perjalanan. Gue pulang dan menunggu kereta ke arah Manggarai di stasiun Tanjung Barat. Malam itu sekitar pukul 20.30, kereta yang dateng 7 : 1, arah Bogor dan JakartaKota. Kereta yang mau gue gunakan berada di Cilebut. Gue kira ini bakalan sepi dan dapet duduk karena emang udah malem, ternyata kereta yang telat ngebuat penumpang makin menumpuk. Gue nggak dapet tempat duduk. Berharap ada yang ngasih gue tempat duduk, gue melipir ke arah dimana kebanyakan bapak-bapak atau mas-mas yang duduk. Cara gue berhasil
Sampai di stasiun Manggarai, gue berpindah ke peron jalur 4, tempat CommuterLine Bekasi berhenti. Sampai di peron 4, gue berada di lapisan kelima dari jejeran orang-orang yang menunggu kereta Bekasi. Entah kenapa kereta Jawa selalu diberangkatkan dan dipulangkan sesuai sama jadwal berangkat dan pulang orang-orang kerja. Gue nyelip-nyelip diantara kerumunan oran gdan berhasil di jejeran paling depan. Tubuh kecil gue bermanfaat.

“Jalur 4 segera masuk CommuterLine tujuan Jatinegara-Cakung-Bekasi”. Pengawas peron menginformasikan penumpang tujuan Bekasi. Gue pun siap-siap di peron jalur 4. Menunggu kereta yang hampir memasuki peron, sama kayak memasuki aba-aba lari jarak dekat. 50 meter kereta memasuki jalur 4, orang-orang tengak-tengok memastikan kereta arah Bekasi sudah terlihat. 30 meter, orang-orang mulai memperkirakan posisinya untuk tepat berdiri pada posisi pintu kereta. 20 meter, orang-orang mulai merapat kearah kemungkinan pintu kereta berada tepat diposisinya. 10 meter, gue kejempet-jempet sama para bapak-bapak beringas yang turun dari kereta dan gue kedorong-dorong sampai akhirnya gue sudah tidak lagi di peron 4. Satu hal yang gue dapet, tepat didepan pintu kereta bukanlah posisi nunggu terbaik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar