Sabtu, 25 Oktober 2014

Orang bilang tidak ada yang salah dengan apa yang telah kita lalui, begitupula dengan ajaran semua agama. Aku memilih hal di masa lalu untuk masa depan yang aku pikir itu baik, tetapi Tuhan berpikir sebaliknya. Oke, aku rasa menjalaninya dengan semangat saja sudah cukup baik, di mata Tuhan.
Mencoba dan menyimpulkan dari apa yang telah aku coba serta setelahnya berpikiran yang aneh-aneh adalah salah satu hal yang mungkin membuat segelintir orang, membuang-buang waktu. Tapi bagiku, itu hal mengasyikan. Kau akan bisa menangkap hal baik apa saja yang belum kau ketahui, dari melakukan itu. Jadi, pagi itu menjadi hari dimana aku akan merasa senang, bosan, panik. Belum, aku belum merasakannya, tapi sudah terbayang olehku. Hari pertama kerja, maksudku... sekedar magang. Ada beberapa hal di benakku sebelum aku memulai hari itu, (1) Berapa orang yang akan bisa dekat dengan ku karena aku, (2) sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, (3) aku merasa berdosa karena aku bekerja tidak sesuai dengan jurusanku. Pukul 8 semua karyawannya mulai bekerja
Menjadi orang yang tepat waktu, memang jadi bahan pertimbangan lagi setelahnya. Aku berangkat pukul 7, yang jarak antara rumahku dengan kantor dapat ditempuh sekiranya 20 menit. 40 km/jam untuk sesekali mendahului sebuah mobil. Aku tidak ingin datang terlalu cepat dan terlambat. Mengisi bahan bakar dan membeli lauk untuk makan siang, menjadi dua hal yang membuatku aman untuk tidak datang terlalu cepat. Aku harap ibu penjual makan melayani dengan lambat. Aku harap antrian panjang di tempat pengisian bahan bakar. Tapi berharap dua hal tersebut kayaknya kurang pas dengan arah ke kantor yang jarang dilewati pengendara sepeda motor dan mobil, tidak ada antrian di tempat pengisian bahan bakar. Begitu pula dengan ibu penjual makan, berharap ia lambat malah terasa ia melayaninya dengan menekan tombol NOS di setiap gerakannya.
Setengah perjalanan, pukul 07.10. Saat semua orang di pagi hari berharap jalanan tidak macet, aku berharap sebaliknya. Ternyata harapan semua oranglah yang menang. 3/4 perjalanan, pukul 07.15. Aku kebelet pipis. Mungkin itu sugesti otak ku saja untuk menggantikan hal menyebalkan dari harapan yang tidak kunjung terkabul, pagi itu, yang sebenarnya aku sama sekali tidak pernah minum banyak di pagi hari.
Cari kantornya. Menanyakan pada beberapa orang di pinggir jalan, aku harap mereka tidak sepenuhnya mengerti, agar aku dapat menanyakan lebih banyak orang di sekeliling, agar aku dapat sampai tepat waktu. Terbesit di otakku untuk menanyakan dimana posisi kantor itu berada, dengan kalimat yang berbelit-belit, tapi kayaknya itu malah ngebuat aku terlihat bodoh. Atau aku tanyakan ke beberapa orang di jalan dengan pertanyaan sama. Iseng. Hanya iseng, dan aku tidak ingin sampai kantor secepat mungkin. 07.30 aku melihat kantornya. Begitu sepi dan berdebu, karena memang dekat sekali dengan jalan raya. Aku sugestikan otakku untuk ingin sekali aku pipis. Pengisian bahan bakar. Aku cari pengisian bahan bakar untuk menggunakan toilet disana. Belum sampai pengisian bahan bakar, aku memikirkan hal apalagi agar aku tidak sampai kantor secepat mungkin. 07.40, lebih cepat dari yang ku kira. Oke, tak apalah, apa salahnya datang lebih awal. 07.45 aku sampai kantor tersebut. Sepi, hanya ada office boy yang sedang membersihkan beberapa meja kantor.

“Hari ini saya magang” kataku
“Silahkan duduk disini. Semua karyawan tidak akan datang sebelum pukul 8 tepat” jawabnya

Ya. Memang seharusnya. Dan tidak seharusnya aku datang terlalu pagi. Mungkin besok-besok aku harus mendatangi semua pengisian bahan bakar untuk sekedar pipis. Tepat pukul 8, kepala perusahaan datang. Dengan memakai kemeja setengah formal dan tidak berdasi, ia mempersilakan aku untuk masuk ruangannya. Rungannya sekitar 5 x 5 meter dan ber-AC. Cukup untuk kami berbicara dengan nyaman. Tiga buah kursi, satu kursi yang didudukinya, satu tempat dimana aku akan duduk, dan satu lagi mungkin biasanya ada dua karyawan yang menghampirinya untuk berdiskusi dengannya, dan itu dua orang.

“Kemari. Saya jelaskan detail soal pekerjaan kamu disini” katanya
“Jadi kamu akan membuat beberapa artikel perhari untuk diposting di website kami. Kamu akan mereview......” entah berapa kalimat yang keluar dari mulutnya, dan yang hanya kutangkap ‘membuat artikel dan mereview...’

Aku memperhatikan gerak-gerik ia berbicara, mungkin ia berharap aku mengerti dan akan memenuhi keinginannya dengan sempurna. Tab browser yang kulihat di notebooknya adalah beberapa website dengan tagline bermacam-macam. Ban, bunga, berlian, dan kebaya. Aku tidak bisa menebak berapa puluh juta omset yang ia dapat perbulan. Atau mungkin ratusan juta.

“Kaget?”
“Apa, Pak?” aku lebih kanget dia berkata ‘kaget?’
“Iya. Ini semua bisnis saya” katanya. Mungkin milyaran, pikirku
“Ini A, B, itu yang disana si C” ia memperkenalkan aku ke beberapa karyawan yang akan kerja di sekelilingku atau lebih tepatnya se-ruangan denganku. Sudah dua hari sampai sekarang aku bekerja, masih belum mengingat betul nama mereka satu-persatu.
“Oke. Kamu disini ya”. 

Aku menaruh barang-barangku di meja yang ia tunjukan untuk aku bekerja. Sunyi. A, B, dan C hanya terdengar suara ketikan mereka dan sesekali bunyi ‘klik’ pada mouse mereka. Sebenarnya ini suasana yang aku sukai. Tenang, tidak ada kegaduhan, dan aku dapat mengunggah imajinasiku ke dalam kalimat yang akan aku susun sekitar beberapa menit kedepan. “Oke” kataku dalam hati sebagai kata untuk memulai pekerjaanku. Aku berharap ada yang bertanya kepadaku, mengenai apapun, siapapun si A B atau C, dan aku sudah mempersiapkan jawabannya

“Tinggal dimana?”
“Dari universitas mana?”
“Bagian apa?”

3 pertanyaan yang ternyata tidak kudengar dari siapapun. Rasanya ingin aku menyapa si A yang duduk tepat di sebrangku. Tapi aku bodoh sekali dalam hal berbasa-basi. Aku urungkan basa-basi tersebut.
Aku cari beberapa sumber mengenai tema yang ku ulas. Rasanya beda. Aku terbiasa menulis kalimat dan kata-kata untuk sebuah buku, novel. Kali ini aku menulis artikel yang mengharuskan artikel tersebut dibaca dan diminati banyak orang. Mau tidak mau, aku harus lebih persuasif dalam mengelola kalimat untuk artikel tersebut. Aneh rasanya. Tapi ini seperti sebuah hukum pekerjaan. Jika kamu seorang koki, seharusnya tidak hanya kue yang bisa kamu buat. Menyebalkan memang membiarkan satu bidang pekerjaan mempunyai cabang-cabang lainnya. Ini jelas soal keahlian khusus maksudnya.
10.30 aku menyelesaikan artikel pertamaku. Masih dengan bunyi ‘klik’ dan keyboard yang terdengar. Dan tiba-tiba speaker si C menyala dengan sebuah lagu yang aku tidak begitu kenal tetapi lagunya sangat merusak imajinasiku. Hilang sudah--moodku untuk menulis artikel kedua.

“Ooh oh yeahhh!” teriak si C dari meja kerjanya sambil mengikuti alunan musik yang ia setel. Rasanya ingin ku bakar komputer yang ia gunakan. 

Berisiiiiik! Kataku dalam hati. Aku tidak tahu namanya siapa dan bagiku, berkomentar di hari pertama kerja rasanya tidak baik. 15 menit ia memutar musik, 15 menit aku terdiam. Tidak menulis sama sekali. Aku coba keluarkan headset dan kupakai. Entah ini akan lebih baik atau buruk, setidaknya aku ingin ia tahu, lagunya sangat menggangu. Aku setel beberapa lagu yang aku suka dan berharap suara yang terdengar dari headsetku mengalahkan suara dari speaker si C. Tapi ternyata sebaliknya.

“Hei-hei berisik yaa!” pemilik perusahaan berteriak. Akhirnya kalimat yang diucap pemilik perusahaan mewakilkan apa yang ingin ku ucap.

“Kita akan makan-makan dan... karaoke sepertinya menarik” salah satu petinggi di perusahaan tersebut memberi tahu semua karyawan kalau hari ini adalah jadwal makan dan jalan bareng yang akan dilaksanakan seusai jam kerja. Ada dua hal di benakku, (1) Well, beruntungnya aku masuk di hari yang tepat, (2) tantangan untuk lebih akrab dengan karyawan lainnya, dimulai sore ini. Pukul 12.00 satu persatu karyawan keluar kantor untuk membeli makan dan mungkin solat di masjid yang tidak jauh dari kantor.

“Makan, Yuk!” ajak si C kepadaku. Kutunjukan plastik dan tempat makan angry bird yang menjadi tempat makan siangku. “Aku bawa bekel” setengah senyum mungkin terlihat oleh si C. “Oke” lalu ia makan bersama huruf abjad lainnya di meja makan karyawan. Aku makan di mejaku. Sendirian

Pikirku: Sewajib apa aku harus bergabung dengan mereka saat ini?
Pikirku: Berapa hari aku akan makan siang di mejaku sendiri?

Selesai makan, aku lanjutkan pekerjaanku. Speaker C pun sudah tidak lagi terdengar beberapa lagu yang merusak imajinasiku. Pukul 14.00 aku selesai menyelesaikan pekerjaanku. Pukul 16.00 jam kantor usai. 2 jam aku habiskan dengan menonton video klip dan membaca novel.

“Kita ke tempat makan pakai mobil? Yang pakai motor?” terdengar suara si B kepada salah satu petinggi perusahaan
“Terserah. Kita bisa gunakan beberapa mobil yang memang kesini pakai mobil” sebagai karyawan baru, diam dan mendengarkan dengan detail sepertinya sudah menjadi sikap cukup baik. 

Kulihat tidak sedikit yang pergi ke kantor dengan menggunakan sepeda motor. Jadi aku tidak khawatir, setidaknya ada teman untuk pergi ke tempat makan yang belum disebutkan tempat makannya. Ternyata semua hal di hari itu tidak sesuai dengan ekspektasiku. Semua karyawan memakai mobil. Ya. Aku. Sendirian. Lagi
Untunglah aku mengenal tempat karaoke yang dimaksud. Aku bergegas menuju tempat itu tanpa harus mengikuti mobil mereka dari belakang. Kuharap mereka datang lebih dulu. Kali ini perkiraanku tepat. Sampai sana, mereka sedang menungguku

“Kita satu jam ya. Kurang, nambah” kata si C
Sampai di ruangan yang cukup sempit untuk menampung karyawan kurang dari 20, membuatku harus duduk lebih dekat dengan lainnya.
“Heeei! Lagu apaaa?!” teriak si C dan aku berpura-pura tidak mendengar, “Apaaa?” Bukan karena speaker yang begitu keras mengeluarkan suara tetapi aku ingin ia mengucapkannya berkali kali agar aku dan dia terlihat lebih lama dalam berbincang. Mengikuti alunan lagu dan ternyata mereka tidak se-pendiam yang aku kira, tetapi sebaliknya.

“Nyanyi nyanyii!!” teriak lainnya kepadaku. Salah satu mic diberikan kepadaku. Dan. Lagunya. Dangdut.

Cengkok dan goyangannya tidak terlalu aku samakan. Si C melihatku sambil memicingkan matanya yang memang sudah sipit dengan tatapan “Elo? Begini? Sebenernya?” tanpa suara. Dan aku menjawab ekspresinya tersebut

“Apalagi yang bisa aku tutupi?”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar